Friday, April 23, 2010

"Jangan melihat siapa yang bicara tapi lihatlah apa yang dibicarakan" (Ali bin Abi Thalib)
Ada seorang muslimah curhat bahwa dia dilarang memakai jilbab oleh orang tuanya. Maksud jilbab di sini adalah pakaian longgar terusan hingga menutup kaki tanpa potongan di tengah yang menutupi pakaian dalam. Dia hanya diperbolehkan memakai kerudung saja yang dalam hal ini seringkali salah kaprah disebut sebagai jilbab. Muslimah ini sedih karena ia sudah tahu beda jilbab dan kerudung. Kedua-duanya wajib dikenakan apabila seorang muslimah keluar dari rumah.

Orang tua muslimah ini selalu beralasan bahwa dilarangnya ia memakai jilbab karena pakaian ini identik dengan pakaian para istri teroris. Dan yang utama, karena para ibu nyai di kampung atau pondok pesantren tidak ada yang memakai pakaian seperti itu. Jadi pakai yang umum-umum saja, begitu si orang tua beralasan. Ketika si muslimah sebagai anak berusaha menjelaskan, orang tua merasa didurhakai karena si anak berani membantah perkataannya. Lagipula, biasanya selalu ada imbuhan ‘kamu kan masih kecil, masih bau kencur. Tahu apa?’
Sobat muda, banyak banget fenomena seperti itu di sekitar kita. Seolah-olah karena mudanya usia, ucapan seseorang dianggap tak penting. Ucapan orang yang lebih tua apalagi bila dia berstatus kyai, nyai, atau orang yang dianggap penting lainnya jauh lebih benar dan pantas diikuti. Padahal yang namanya manusia, pastilah tak luput dari salah dan dosa meskipun sekaliber kyai atau nyai.

Penulis sering kali bertemu dengan teman-teman yang suka mengambil jalan pintas ketika berdiskusi. “Pak Kyai dan Bu Nyai saya dulu bilangnya begitu. Saya kan tinggal ngikut saja.” Padahal, betapa Allah memberi kita kelebihan akal untuk bisa dimaksimalkan agar tidak sekadar mengekor kepada orang lain. Karena nanti di Yaumul Hisab, semua orang akan membawa amalnya sendiri-sendiri meskipun mereka saling tuding menimpakan kesalahan pada orang lain.
…Tidak pada tempatnya lagi kita beramal tanpa ilmu. Jangan melihat siapa yang berbicara tapi lihatlah apa yang dibicarakan…

Maka benarlah apa yang dikatakan oleh Ali bin Abi Thalib bahwa jangan melihat siapa yang berbicara tapi lihatlah apa yang dibicarakan. Karena bukan tidak mungkin hikmah atau kebaikan itu berasal dari lisan seseorang yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Bukan tidak mungkin seorang yang masih muda usia bisa mengeluarkan kata-kata bijak dibandingkan dengan seorang yang sudah lebih tua secara umur. Karena sungguh, kebijakan seseorang itu bukan diukur dari segi usia semata tapi lebih kepada kematangan pemahanan dia memaknai kehidupan.
Tidak pada tempatnya lagi kita beramal tanpa ilmu. Tidak saatnya lagi kita berargumen katanya si A, si B, si C. Tidak saatnya lagi kita menutup mata bahwa ada kebenaran di luar sana yang mungkin saja lebih benar daripada apa yang kita yakini selama ini. Asal dasar dari semua alasan yang ada jelas, bukan sekadar mengikut kyai atau nyai tertentu. Dan bila kasus di atas terjadi pada dirimu, maka cobalah memahamkan ortu dengan baik dan sabar. Karena bagaimana pun kamu tidak boleh kasar terhadap mereka.

Hal itu bisa menjadi pembelajaran bagi kamu bahwa jangan sampai ke depannya meremehkan masukan dari siapa pun, bahkan bila orang itu secara usia lebih muda. Karena sesungguhnya setiap diri akan menerima ganjaran sesuai dengan apa yang diusahakannya. So, mulai sekarang jangan suka meremehkan kebenaran tak peduli dari lisan siapa kata-kata itu tersampaikan...
AllahuakBar!!!!
(So.... Tw Kan Tmend2 beda JiLbab n Kerudung Tu apa???)..
:D

Tuesday, April 20, 2010

_DoSa Yang Lebih BeSar Daripada BerZina_

Pada suatu senja yang lenggang, terlihat seorang wanita berjalan terhuyung-huyung. Pakaiannya yang serba hitam menandakan bahwa ia berada dalam duka cita yang mencekam. Kerudungnya menangkup rapat hampir seluruh wajahnya. Tanpa rias muka atau perhiasan menempel ditubuhnya. Kulit yang bersih, badan yang ramping Dan roman mukanya yang ayu, tidak dapat menghapus kesan kepedihan yang tengah meruyak hidupnya. Ia melangkah terseret-seret mendekati kediaman rumah Nabi Musa AS Diketuknya pintu pelan-pelan sambil mengucapkan salam. Maka terdengarlah ucapan dari dalam "Silakan masuk". Perempuan cantik itu lalu berjalan masuk sambil kepalanya terus merunduk. Air matanya berderai tatkala ia berkata, "Wahai Nabi Allah. Tolonglah saya, Doakan saya agar Tuhan berkenan mengampuni dosa keji saya". "Apakah dosamu wahai wanita ayu?" tanya Nabi Musa AS terkejut. "Saya takut mengatakannya." jawab wanita cantik. "Katakanlah jangan ragu-ragu!" desak Nabi Musa. Maka perempuan itupun terpatah bercerita, "Saya...... telah berzina." Kepala Nabi Musa terangkat, hatinya tersentak.
Perempuan itu meneruskan, "Dari perzinaan itu saya pun...... lantas hamil. Setelah anak itu lahir, langsung saya....... Cekik lehernya sampai...... tewas", ucap wanita itu seraya menagis sejadi-jadinya. Nabi musa berapi-api matanya. Dengan muka berang Beliau menghardik," Perempuan bejad, enyah kamu dari sini! Agar siksa Allah tidak jatuh kedalam rumahku karena perbuatanmu. Pergi!"...teriak Nabi Musa sambil memalingkan Mata karena jijik.Perempuan berwajah ayu dengan hati bagaikan kaca membentur batu, hancur luluh segera bangkit Dan melangkah surut. Dia terantuk-antuk keluar dari dalam rumah Nabi Musa. Ratap tangisnya amat memilukan. Ia tak tahu harus kemana lagi hendak mengadu. Bahkan ia tak tahu mau dibawa kemana lagi kaki-kakinya. Bila seorang Nabi saja sudah menolaknya, bagaimana pula manusia lain bakal menerimanya? Terbayang olehnya betapa besar dosanya, betapa jahat perbuatannya.
Ia tidak tahu bahwa sepeninggalnya, Malaikat Jibril turun mendatangi Nabi Musa. Sang Ruhul Amin Jibril lalu bertanya, "Mengapa engkau menolak seorang wanita yang hendak bertobat dari dosanya? Tidakkah engkau tahu dosa yang lebih besar daripadanya?" Nabi Musa terperanjat. "Dosa apakah yang lebih besar dari kekejian wanita pezina Dan pembunuh itu?" Maka Nabi Musa dengan penuh rasa ingin tahu bertanya kepada Jibril."Betulkah Ada dosa yang lebih besar dari pada perempuan yang nista itu?" "Ada!" jawab Jibril dengan tegas. "Dosa apakah itu?" tanya Musa kian penasaran. "Orang yang meninggalkan sholat dengan sengaja Dan tanpa menyesal. Orang itu dosanya lebih besar dari pada seribu kali berzina.
Mendengar penjelasan ini Nabi Musa kemudian memanggil wanita tadi untuk menghadap kembali kepadanya. Ia mengangkat tangan dengan khusuk untuk memohonkan ampunan kepada Allah untuk perempuan tersebut.Nabi Musa menyadari, orang yang meninggalkan sembahyang dengan sengaja Dan tanpa penyesalan adalah sama saja seperti berpendapat bahwa sembahyang itu tidak wajib Dan tidak perlu atas dirinya. Berarti ia seakan-akan menganggap remeh perintah Tuhan, bahkan seolah-olah menganggap Tuhan tidak punya hak untuk mengatur Dan memerintah hamba-Nya. Sedang orang yang bertobat Dan menyesali dosanya dengan Sungguh-sungguh berarti masih mempunyai iman di dadanya Dan yakin bahwa Allah itu berada di jalan ketaatan kepada-Nya. Itulah sebabnya Tuhan pasti mau menerima kedatangannya.
(Dikutip dari buku 30 kisah teladan - KH Abdurrahman Arroisy) Dalam hadist Nabi SAW disebutkan : Orang yang meninggalkan sholat lebih besar dosanya dibanding dengan orang yang membakar 70 buah Al-Qur'an, membunuh 70 nabi Dan bersetubuh dengan ibunya di dalam Ka'bah.Dalam hadist yang lain disebutkan bahwa orang yang meninggalkan sholat sehingga terlewat waktu, kemudian ia mengqadanya, maka ia akan disiksa dalam neraka selama satu huqub. Satu huqub adalah delapan puluh tahun. Satu tahun terdiri dari 360 Hari, sedangkan satu Hari di akherat perbandingannya adalah seribu tahun di dunia.
Demikianlah kisah Nabi Musa Dan wanita pezina Dan dua hadist Nabi, mudah-mudahan menjadi pelajaran bagi Kita Dan timbul niat untuk melaksanakan kewajiban sholat dengan istiqomah.

TersenyuMLah...^_^

Kenapa Harus Cemas..Jika Ujian MeruPakan Pertada Cinta Allah???

Kenapa Harus Takut..Jika ujian adalah cara Allah Meningkatkan Derajat Kita Di sisiNya???

Kenapa Harus Khawatir..Jika Ujian adalah Penghapus dosa-dosa Kita????

Kenapa harus Bersedih..Jika Dengan ujian Qta Layak mendapatKan SuRga???

"TERSENYUMLAH"
"TERSENYUMLAH"
"TERSENYUMLAH"

Jika Hari deMi hari Yang Kita Lalui Dipenuhi dengan Kesulitan Hidup, Tantangan ,Ancaman dari Orang Yang Membenci , celaan dari Orang-Orang yang menCela,,,,Maka Berbahagialah. ITu PerTanda ALLAH Mencintai Kita...

SeBaliknya jika detik yang kita lewati dipenuhi dengan gemilang Kenikmatan hidup, itu pertanda kita belum termasuk hamba yang di cintai-Nya...( nau'zubillahi minzdalik)...